Dari Pelosok Flores ke Pelosok Kalimantan, Sebab Menjadi Guru adalah Merawat Mimpi Masa Depan Bangsa.
“Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T), sejatinya merupakan sebuah program unggulan dan mulia untuk menyentuh, menyapa, menggapai dan mencerdaskan anak bangsa yang mendiami pelosok ujung negeri. Kehadiran guru-guru yang berjiwa kasih sayang, totalitas, dan ikhlas dalam mengabdi membawa harapan baru untuk menerangi kegelapan yang ada. Guru SM-3T sejatinya “Pelita di tengah-tengah kegelapan”.
Saya salah satu Guru SM-3T dari LPTK Universitas Negeri Makassar (UNM) penempatan Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Sebelumnya, saya kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Pendidikan Sosioogi dan tamatan angkatan 2011 serta selesai pada akhir 2015 dengan IPK sangat baik atau cumlaude. Menyandang gelar sarjana, pulang kampung halaman adalah panggilan Moril untuk membangun tanah kelahiran.
Namun harapan itu sepertinya jauh panggang dari api. Surat lamaran menjadi guru yang saya kirim ke sekolah-sekolah tak satu pun diterima. Selain mengirim lamaran secara prosedur administratif sekolah, saya juga melakukan pendekatan secara budaya ke kepala-kepala sekolah. Namun tetap saja semua upaya itu tidak membuahkan hasil apapun. Selain karena memang sekolah-sekolah itu tidak sedang membuka lowongan guru, juga karena memang mereka sudah mempunyai calon guru dari keluarga dan kenalan kepala sekolah. Sedang saya, seorang sarjana freshgraduate yang berasal dari sebuah desa terpencil dan tidak mempunyai keluarga guru atau koneksi pribadi dengan kepala sekola dan guru-guru.
Sebagai orang yang tamat sekolah (sarjana) yang sudah ditempa ragam suka-duka kehidupan selama sekolah (kuliah), mendapati kenyataan seperti itu di kampung halaman sendiri bukanlah sebuah soal. Saya anggap itu sebagai bagian dari kisah perjalanan hidup yang kelak akan menarik untuk dikenang. Saya tidak patah arang. Justru semangat saya semakin menjadi-jadi.
Ayah saya, seorang yang saya juluki sebagai ‘Profesor’ dalam kehidupan saya, pernah berkata,
“Anakku, jika ada hambatan, janganlah berhenti berusaha dan berdoa. Yakinlah di luar sana masih banyak kesempatan yang bisa kamu raih”.
Kata-kata ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi saya, motivasi dari Ayah saya seperti guru yang membimbing dan mengarahkan murid-muridnya untuk mencapai impian dan cita-cita yang berangkat dari kehendak hati paling dalam.
Kampung halaman saya jauh dari kota. Akses jalan yang sulit dan tidak adanya sinyal telekomunikasi membuat kampung saya terisolasi. Dengan kondisi seperti itu, tinggal dan menetap di kampung saja tentu bukanlah pilihan yang tepat. Saya mesti ke kota dan mencari sebanyak mungkin informasi, tentang lowongan guru di sekolah-sekolah ataupun informasi-informasi lainnya.
Di ibukota kabupaten, saya mencoba mencari informasi tentang program SM-3T. Sebelumnya saya pernah mendengar tentang program ini dari seorang teman kuliah. Melalui internet, saya mendapat informasi bahwa program SM-3T sedang membuka lowongan untuk angkatan baru. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, saya senang bukan main.
Segera saya bergerak, mengurus semua syarat-syarat yang dibutuhkan dan melakukan pendaftaran. Dengan segenap upaya, kesungguhan, dan keinginan yang kuat, akhirnya Tuhan menakdirkan saya lulus program ini, sebagai salah satu calon guru peserta program SM-3T lalu menjadi guru SM-3T setelah menjalani serangkaian tes dan pelatihan lainnya.
Itulah sekilas proses yang menghantarkan saya berada di program yang sangat mulia ini. Sebuah program yang memampukan saya bertemu dan berkontribusi untuk pendidikan anak-anak bangsa di pelosok negeri.
Setelah dinyatakan lulus tahap akhir dan remi menjadi guru program SM-3T, saya kemudian rajin membaca kisah-kisah Guru SM-3T yang sudah mengabdi dan sudah menjalanin program. Dari ceritan mereka, saya mendapat gambaran seperti apa keseharian di tempat pengabdian nantinya. Akan ada banyak cerita suka maupun duka. Namun saya bahagia, sebab saya akan menjumpai dan menjalani keseharian yang berbeda dari yang saya jumpai dan jalani sebelumnya. Juga, melalui program ini, saya bisa melihat Indonesia yang luas dan berkesempatan menjadi bagian dari upaya untuk mewujudkan mimpi-mimpi anak negeri.
Awal Keberangkatan dan Hari Pertama Tiba di Tempat Pengabdian
Saya mengikuti kegiatan pra kondisi selama tiga belas hari di gedung Phinisi UNM dan empat hari di Rindam VII Wirabuana, Kabuaten Gowa, Sulawesi Selatan. Saya bergabung bersama lima puluh empat peserta SM-3T LPTK UNM Angkatan VI lainnya yang akan ditempatkan di Kabupaten Mahakam Ulu.
Sehari sebelum pemberangkatan, panitia menyampaikan bahwa kami akan diberangkatkan dengan pesawat Garuda. Jujur, waktu itu, saya sangat senang dan penasaran bagaimana sensasinya ketika naik pesawat.
Hari senin, 5 September 2016, untuk pertama kalinya saya berpergian menumpang pesawat. Dari Makassar menuju Balikpapan.
Ketika menaiki tangga pesawat, perasaan saya sedikit tak karuan. Antara senang dan gugup. Saat pesawat lepas landas, badan mulai bergetar dan saya berkeringat dingin. Namun saya berusaha tetap kuat dan nampak biasa-biasa saja. Sebagai seorang anak petani, dalam hati saya terharu dan bangga terhadap diri saya sendiri. Akhirnya saya merasakan bagaimana menumpang pesawat terbang. Saya bersyukur, saya mengalaminya melalui sebuah kesempatan yang sangat baik dan membanggakan, dalam perjalanan menuju tempat pengabdian, mengemban tugas sebagai tenaga pendidik dari sebuah program nasional yang membanggakan. Saya berterimakasih untuk program SM-3T atas kesempatan dan pengalaman yang sangat mengharukan ini.
Selasa, 6 September 2016, semua peserta SM-3T UNM angkatan VI tiba di Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu, dan langsung diarahkan untuk berkumpul di SMA Negeri 1 Long Bagun untuk mengikuti acara penerimaan oleh pejabat dari Dinas Pendidikan setempat.
Dalam acara penyambutan dan penerimaan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mahulu, Bapak Chen Tek Hen Yohanes, menyampaikan kebahagiaannya atas kehadiran Guru SM-3T di Kabupaten Mahulu.
Dalam sambutannya, ia sangat berharap bahwa Guru-guru SM-3T yang datang ke Mahulu memiliki daya juang dan kepedulian yang sangat tinggi. Diharapkannya, semoga kehadiran Guru-guru SM-3T di daerahnya bisa membantu pemerintah daerah untuk meningkatkan mutu pendidikan masyarakat.
Pada kesempatan penerimaan itu pula, turut memberikan sambutan perwakilan dari pejabat Kemendikbud. Menyampaikan sambutan adalah Bapak Wien Muldian. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa Kementrian mendukung penuh program kerja nyata dalam hal ini Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T), karena pengabdian mereka sangat nyata untuk anak-anak di pelosok negeri. Selain itu beliau menyampaikan pesan kepada para Guru SM-3T untuk berbuat sebanyak mungkin untuk masyarakat, bangsa, dan negara selagi masih muda.
Sambutan dari LPTK UNM dibawakan oleh Bapak Alimin. Ia juga bersemangat dalam menyampaikan sambutannya. Beliau menaruh harapan kepada Guru-guru SM-3T penempatan Mahulu untuk tetap menjaga nama baik LPTK, seperti angkatan sebelumnya dan untuk mengabdi dengan setulus hati. Lalu acara penyambutan dilanjutkan dengan pembacaan nama-nama Guru SM-3T dan nama sekolah pengabdian masing-masing.
Alhamdulillah saya bersama sembilan orang teman lainnya ditempatkan di Kecamatan Long Apari. Sebuah daerah di ujung negeri yang berbatasan dengan negara Malaysia. Di Kecamatan Long Apari, saya ditempatkan di SMA Negeri 1 Long Apari, membidangi Mata Pelajaran Sosiologi.
Pada malam hari selepas acara penyambutan, kami menginap di rumah salah satu pegawai Dinas Pendidikan setempat. Keesokan harinya, lima pulu lima peserta SM-3T meninggalkan Ujoh Bilang dan menyebar ke daerah penempatan masing-masing.
Perjalanan dari Kabupaten menuju Kampung Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari tempat saya mengabdi nantinya, hanya bisa ditempuh melalui sungai selama sehari dan tidak bisa ditempuh dengan jalur darat. Perjalanan yang sangat melelahkan baik secara fisik maupun secara psikologis.
Perjalanan melalui jalur sungai dengan menumpangi kapal boat sangat berisiko. Harus melawan “arum jeram” yang ganas yang sudah banyak menelan korban. Belum lagi biaya perjalanan yang mahal, sekira satu sampai dua juta rupiah sekali jalan, itu pun tergantung situasi air.
Saat di atas Kapal Boat, beberapa warga bercerita tentang ganasnya arus sungai yang akan kami lewati. Saya yang mendengarnya langsut ciut. Pikiran saya sangat kacau, takut dan gelisah. Beberapa teman saya, ada yang memaksakan diri untuk tidur, dengan harapan supaya mereka bangun dari tidurnya sudah sampai di tempat tujuan.
Saya sendiri, melawan ketakunan dengan bertawakkal pada Sang Pecipta. Menaruh keyakinan bahwa Sang Maha Kuasa pasti melindungi hambanya yang berhijrah untuk membawa misi kebaikan.
Setelah menempuh perjalanan yang penuh drama itu, akhirnya saya dan teman-teman tiba di Kampung Tiong Ohang. Beberapa siswa sekolah setempat menjemput kami di dermaga. Sungguh tak bisa dilukiskan kebagaiaan saya ketika itu. Senyum yang tulus dari wajah siswa-siswi itu menyiratkan kerinduan akan kehadiran guru-guru baru yang membantu mereka bisa menemukan dan merencanakan mimpi masa depan.
Suka Duka di Tempat Pengabdian
Kecamatan Long Apari adalah salah satu kecamatan yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Jaraknya sekitar 70 km dan sangat terisolir dengan jumlah penduduk sebanyak 4.093 jiwa.
Pada tahun 2014, sempat beredar berita di beberapa media nasional bahwa semua warga di perbatasan menyatakan sikap untuk hijrah ke negara tetangga Malaysia apabila pemerintah tidak turun gunun menyambangi warga dan wilayah yang terisolir ini. Pemberitaan itu berhasil membuat pemerintah pusat kebakaran jenggot.
Kala itu, kondisi di Long Apari memang mengkhawatirkan. Musim kemarau berlangsung lama selama enam bulan. Akibatnya, volume air sungai berkurang. Kapal-kapal boat yang biasa mengangkut kebutuhan sembako warga tidak beroperasi. Long Apari didera krisis. Bantuan pemerintah tak kunjung datang. Setelah pemberitaan itu, Pemerintah Pusat dan Daerah langsung turun tangan, memberikan bantuan sembako melalui jalur udara.
Ketika mendengar cerita ini dari masyarakat, saya menjadikannya sebagai referensi untuk menyikapi kehidupan sosial kemasyaratan.
Selama berada di daerah 3T (tempat pengabdian), banyak fenomena Sosial, Budaya, Politik, Ekonomi, Hukum dan khususnya Pendidikan saya jumpai. Semua itu saya alami dan berpikir bahwa itu semua adalah “pengetahuan yang sangat berharga”.
Menjadi seorang Guru di perbatasan mungkin tak akan banyak orang yang mau. Sebab ia akan berhadapan dengan berbagai tantangan yang begitu kompleks. Sebutlah misalnya soal listrik yang terbatas, air yang tidak bersih, sinyal handphone yang susah, tidur beralaskan tikar, masak sendiri, dan biaya hidup yang mahal seperti harga kebutuhan primer yang melambung tinggi.
Bayangkan harga beras bisa mencapai Rp.600 ribu/25 kg, BBM mencapai 30 ribu per liter kalau musim kemarau karena kapal boat tidak bisa beroperasi untuk mengangkut sembako akibat turunnya volume air sungai Mahakam. Realitas seperti itu membuat saya harus bersiasat sebaik mungkin dan kuncinya bersyukur dengan apa yang ada. Secara pribadi saya berpikir bahwa benar orang bijak mengatakan, “dalam hidup jangan kita selalu melihat ke atas tetapi sekali-kali melihat kebawah”. Itu untuk menumbuhkan rasa kecukupan dengan apa yang ada. Berbekal idealisme dan semangat yang membara tentunya juga belajar dari fenomena tersebut, saya berprinsip selama punya kesempatan mengabdi harus berkomitmen mengambil bagian khususnya aspek pendidikan. Melalui Pendidikan, saya bisa berbagi semangat menumbuhkan rasa cinta Tanah Air kepada peserta didik, dan memberikan pemahaman Pancasila, UDD, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika harga mati walaupun menghadapi situasi-situasi yang sulit. Ketika di sekolah misalnya, sebelum memulai proses pembelajaran siswa, saya meminta mereka untuk menghafal Pancasila, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dan memutar rekaman lagu-lagu perjuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia di mana mereka mengorbankan jiwa dan raganya untuk kibarnya sang merah putih. Dengan hal kecil seperti itu mereka mengerti akan sulitnya pahlawan bangsa mengantarkan kemerdekaan indonesia.
Kehadiran saya ibarat pisau bermata dua yaitu sebagai Pendidik dan Peserta didik. Sebagai pendidik tentunya tugas utama saya adalah mentransformasikan ilmu, membimbing, menasihati, mengayomi serta yang lebih penting memberikan teladan yang baik. Saya sebisa mungkin menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Siswa bisa meniru serta mengidentifikasikan diri mereka seperti sosok guru yang baik (Guru role model). Di sisi lain, sebagai peserta didik, Saya banyak belajar dengan siswa-siswi yang mendapat sterotipe (pelabelan) buruk dari dari Guru-guru yang ada. Siswsa-siswi ini dianggap bodoh, tidak berprestasi, malas belajar. Namun pada sisi lain, mereka sangat menghargai guru. Mereka adalah siswa-siswi yang mengetahui arti pentingnya Pendidikan walau penuh keterbatasan. Mereka belajar menghargai seragam sekolah yang sudah kusut, buku yang sudah kusam tidak layak pakai, belajar bagaimana memainkan peran ganda sebagai pelajar dan tulang punggung pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, belajar tetap tegar walaupun pulang sekolah harus berladang, malam hari ikut berburuh dan paginya mereka masuk sekolah, belajar menghargai kaum minoritas, dan belajar bersyukur atas pemberian Tuhan.
Menjalani Keseharian Bersama Masyarakat Dayak
Bagi banyak orang, mendengar istilah pedalaman Kalimantan apalagi suku dayak mungkin akan seperti mendengar cerita dongeng. Cerita-cerita tentang Suku Dayak mungkin sudah familiar di telinga, namun wujud dan penampakannya belum melihat langsung.
Sebagai Guru SM-3T, saya bersyukur bisa menginjakkan kaki dan memiliki kesempatan berbaur, bergaul, dan mendidik anak-anak Suku Dayak yang belum tersentuh arus modernisasi yang mengarah kepada westernisasi sekarang. Berinteraksi dengan siswa-siswi dan masyarakat yang berbeda agama, suku, budaya, bahasa dan lain-lain merupakan khazanah pengetahuan yang nilainya tidak bisa dibeli dengan materi
Masyarakat suku dayak ditinjau dari sisi Agama, mayoritas beragama Katolik, adapun yang beragama Islam hanya pendatang.
Selama kurang lebih 8 (delapan) bulan saya berada ditengah-tengah kehidupan masyarakat, membuka cakrawala berpikir baru bagi saya tentang masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak tidak seperti yang dipikirkan seperti stigma negatif (sterotipe) yang biasa saya dengar dilontarkan oleh orang-orang luar sana terhadap mereka. Dari yang saya dengar sebelumnya, masyarakat Dayak adalah identik dengan keterbelakangan dan primitive, masyarakatnya tertutup dengan orang luar, dan mereka saling bermusuhan dan lain-lain. Namun pandangan-pandagan negatif tersebut terbantahkan oleh kenyataan yang ada. Masyarakatnya terdiri dari berbagai Suku seperti Bugis, Jawa, Flores, Banjar dan mereka hidup secara berdampingan dan saling menghargai, menghormati dan melengkapi satu sama lain.
Pada masa awal kedatangan di lokasi pengabdian, kami disambut hangat masyarakat. Kami ke rumah salah seorang tokoh masyarakat dengan tujuan mengadakan ritual adat. Adapun rangkaian prosesi adat yaitu pemberian nama, pemasangan gelang manik, dan petuah.
Saya sendiri diberikan nama khas Suku Dayak yaitu Anye dan dipasangkan gelang manik oleh orang tua angkat. Dalam tradisi masyarakat Dayak, mereka menyakini bahwa pemberian nama ini sebagai penghormatan kepada roh nenek moyang agar bisa menjaga pendatang dari roh-roh jahat dan bisa bersatu dan bersahabat dengan alam yang ada. Sedangkan gelang manik yang terbuat dari benang dan manik-manik yang warnanya bervariasi mimiliki nilai yang sangat bermakna. Benang diartikan sebagai pengikat atau pemersatu. Manik-manik yang warnanya berbeda melambangkan simbol perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Bagi mereka prosesi adat ini sangat sakral sehingga harus terjaga dan dirawat keberlangsungannya ditengah-tengan arus modernisasi hari ini.
Prosesi adat inilah yang mengajarkan mereka menghargai dan menghormati tamu yang datang walaupun berbeda suku agama, ras dan lain-lain. seharusnya Indonesia dari sabang sampai marauke harus belajar dari mereka, bahwa perbedaan yang ada bukan dijadikan perpecahan akan tetapi disatukan dan diikat oleh “Bhineka Tunggal Ika” seperti benang yang menyatukan manik-manik yang warnanya berbeda. Keberagaman harus kita rawat di bumi nusantara ini, sebagaimana pesan yang pernah diungkapkan oleh mantan Presiden RI/tokoh NU yaitu KH.Abdurahman Wahid atau akrab disapa Gusdur, “indahnya sebuah taman bukan karena bunganya tetapi keanekaragaman bungannya dan indahnya kehidupan bukan karena manusiannya tetapi perbedaan yang dimiliki manusianya”.
Selama di tempat pengabdian, saya mudah berbaur dan bergaul dengan masyarakat setempat. Pengalaman berorganiasi semasa kuliah membuat saya mudah berkomunikasi. Ditambah lagi, masyarakat menyambut dan menerima dengan hangat dan luar biasa. Kehadiran saya bukan hanya sekedar mendidik siswa-siswi di sekolah tapi lebih dari itu melakukan pendekatan persuasif dengan masyarakat setempat.
Di sekolah misalnya, banyak siswa-siswi yang malas masuk sekolah, mengutamakan pergi berladang membantu orang tua dari pada masuk sekolah. Banyak siswa yang motivasi belajarnya rendah karena kurangnya bimbingan dan perhatian orang tua di rumah belum lagi angka putus sekolah yang tinggi karena pernikahan dini dan ragam faktor lainnya. Saya mencoba memberikan pengertian kepada masyarakat khususnya orang tua siswa melalui pendekatan persuasif atau empat mata.
Kepada beberapa orang tua, saya memebrikan gambaran akan pentingnya peran orang tua untuk menyadarkan anaknya bahwa sekolah sangat penting agar nasib anak-anaknya tidak seperti mereka. Kalau orang tuanya hanya tamatan SD, SMP dan SMA, anaknya harus lebih dari itu. Saya pun ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti bakti sosial, olahraga, upacara adat, berburu, menjala, menanam dan memanen padi di ladang dan itu semua saya lakukan untuk membangun keakraban.
Saya ingin ceritakan juga bahwa masyarakat suku dayak khusus marga Penihing kebanyakan berprofesi sebagai petani dengan mata pencaharian berladang dan mendulang emas di sungai Mahakam. Kehidupan sehari-hari mereka habiskan di ladang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Salah seorang diantaranya adalah seorang nenek bertelinga panjang bernama Bulan yang usianya sudah 80 tahun. Walau sudah terhitung sepuh, namun ia tetap bersemangat berladang seperti halnya masyarakat lain yang usianya terhitung muda. Tuntutan ekonomi dalam hal ini kebutuhan pokok mengharuskan nenek ini bekerja untuk mendapat sesuap nasi walaupun kondisi fisiknya sudah tidk kuat. Nenek Bulang mengatakan, apa yang dia lakukan tidak merasa berat baginya karena dengan “ketulusan hati dan mencintai apa yang dia kerjakan”. Nenek Bulan juga menuturkan pesan kepada generasi muda untuk terus belajar dan berusaha supaya tidak mengalami nasib seperti yang dia alami.
Tentu saja kisah nenek bertelinga panjang ini menjadi otokritik bagi kita kaum muda. Kalau nenek ini saja memiliki semangat dan prinsip dalam bekerja, seharusnya kita seperti itu.
Pendidikan di Daerah 3T
Sebagai akhir dari tulisan ini, jika boleh saya mencatat, permasalahan penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T berkuta pada beberapa hal. Pertama adalah kurangnya jumlah pendidik. Kedua, kualifikasi guru yang dibawah standar. Ketiga, ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidik dengan bidang mengajar. Keempat, cara mengajar yang hanya mengandalkan metode ceramah. Kelima, kurangnya sarana dan prasarana khususnya buku paket. Keenam, budaya siswa yang lebih suka pergi berladang dari pada masuk sekolah. Ketujuh, banyaknya siswa yang kawin di usia dini yang menyebabkan pada tingginya angka putus sekolah. Kedelapan sebagai yang terakhir, motivasi siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi sangat rendah.
Menyikapi sekian banyak persoalan ini tentunya membutuhkan perhatian yang lebih dan sungguh-sungguh. Tentu saja selain dari pemerintah, yang tak kalah penting adalah partisipasi masyarakat setempat.
Wujud perhatian yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah di daerah 3T adalah, yang pertama, pengiriman guru ke daerah 3T. Program ini wajib hukumnya tetap dilanjutkan apapun bentuk programnya. Berkaca pada program yang saya ikuti, ternyata kehadiran saya membawa angin segar untuk menjawab satu dari sekian persoalan yang ada. Status sebagai guru tidak membuat saya menjaga jarak dengan siswa, selalu memberikan motivasi akan pentingnya pendidikan, dalam proses pembelajaran saya menciptakan ruang interaksi dengan siswa, saya perlakukan mereka sebagai subyek bukan obyek pendidikan sehingga kenyataannya siswa-siswi mulai rajin masuk sekoalah, sangat aktif dalam proses pembelajaran, merasakan langsung antusias mereka ketika masuk kelas bahkan mereka tidak sungkan bertanya. Mengadakan sosialisasi masuk SNMPTN dengan orang tua siswa, sehingga bisa menarik benang merahnya ternyata mereka sangat membutuhkan sosok guru yang mendidik dan berdedikasi tinggi bukan sekedar mengajar. Mengingat hampir tidak ada guru yang ingin mengabdi di daerah 3T tanpa ada program seperti SM-3T dari pemerintah.
Kedua, mengalokasikan dana secara khusus untuk mengirim motivator handal untuk mensosialisasikan pentingnya pendidikan karena persoalan dasarnya mereka tidak memiliki motivasi untuk sekolah. Ketiga, memperbaiki kualitas guru dengan memberikan pelatihan pengembangan kamampuan pedagogik, sosial, dan spiritual sehingga guru memahami profesinya. Keempat, meningkatkan sarana dan prasarana yang masih minim. Kelima, pengawasan yang lebih intensif supaya tidak terjadi penyelewengan dana yang ada, hal ini bisa direalisasikan dengan semangat otonomi daerah, sehingga pengawasan pemerintah terhadap pendidikan di daerah 3T lebih optimal. Keenam, kurikulum pendidikan harus dilaksanakan sebagai suatu rangkaian yang berkelanjutan dengan bersifat jangka panjang agar sistematis, karena jujur pergantian kurikum yang merasakan langsung pengaruhnya di daerah 3T dengan keterbatasan yang ada. Ketujuh, pelaksanaan kurikulum yang sarat muatan lokal dan kontekstual sesuai ciri khas suatu daerah.
Solusi dari saya diatas sejalan dengan nawacita Presiden Joko Widodo yaitu gerakan Revolusi Mental dan membangun dari pinggiran dengan harapan memajukan pendidikan dan pembangunan di daerah 3T. Harapan terbesar saya dan kita semua bahwa pendidikan di Indonesia tidak terkotori oleh penyakit KKN, karena dengan itu, maka segala sesuatu akan jauh lebih lancar, baik pengadaan prasarana maupun pengandaan tenaga pengajarnya.
Akhirnya patut untuk diingatkan bahwa pendidikan untuk semua dan pendidikan sepanjang hayat adalah kerja mulia yang harus dilakukan lebih baik lagi. Kemajuan dan keadaban suatu bangsa diukur dengan tingkat pendidikan warganya. Pendidikan adalah kerja besar yang memerlukan perencanaan sistemik, berkesinambungan, dan tak boleh tambal sulam. Perhatian terhadap pendidikan bagi orang pinggiran setidaknya bukan sekedar program populis, tetapi tentunya diharapkan memberikan jaminan bagi masa depan yang gemilang.